Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

a cup of rain

gerimis berlarian berkejaran di atas lapis tubuhku meleleh di antara rimbunnya rindu rintik selalu mampu membuatku tertarik paksa tanpa bantahan kembali menyelam ke masa itu matamu yang selalu menancap kuat di ingatanku bisik desah suaramu tak mau beranjak dari ingatanku ada senyum yang tergores dan tentu saja torehan kecewa tak bisa kau tatap terus saja kau menari bahagia di ingatanku menebar senyum memikat menjala ribuan rindu tak berkata ayolah... berhenti bersarang manja di hatiku aku tidak membohongi hatiku tapi  garis-garis ini tidak memilih kita untuk mereka ikat jalan ini tidak menuju pada ruang yang terang bukankah sudah kau lihat ego kita terlalu sesat untuk sekedar saling berbagi aku selalu mencintai hujan ini dinginnya selalu tepat dihidangkan dengan kenangan kita aku tidak pernah menolak menari di bawahnya hingga lelah berselimut mimpi d ii a n

Janji kita

Untuk wujud yang saya sebut SAHABAT untuk barisan hari yang berubah menahun untuk lantunan cerita menjadi kenangan untuk gelak tawa yang menjadi timbunan semangat hari-hari yang tidak bisa kita lalui dengan kebersamaan segala perjuangan dengan tangis, senyum, dan makian waktu yang tidak mau memberi ampun pagi ketika kita berjanji untuk maju mencuri toga berbahagia atas nama pengorbanan janji lidah sudah kita tepati Pagi ketika kita sudah berada di semester akhir dan ketakutan bertemu 'skripsi', ada janji yang bukan perjanjian resmi.  Ketika itu kita hanya berjanji untuk mengenakan 'toga' bersama-sama. Bersama-sama bukan berarti selalu tepat pada waktu yang kita inginkan. Aku baru bisa mengenakan toga pada awal 2013,  yang pertama tentu saja kamu bek, lalu oge dan tari, baru kemudian aku. Gery sudah berhasil melewati sidang maut 'skripsi' dan akan membawa pulang toga pada bulan Maret. Hary sedang bergumul mesra dengan 'skripsi...

Untukmu R

Menari kecil di atas trotoar dingin malam itu ketika kamu menggenggam kaku jemariku Menghangatkan malam dengan hembusan nafasmu bercerita Lantunan doa jenaka yang kamu tulis pada buku yang tak pernah tampak cerita yang bukan tentang rasa hanya tentang jalan yang kita lalui hingga pertemuan hari ini U ntukmu R senyum manis di sudut senja  ketika kita mengabadikan mentari di akhir hari genggaman tanganmu menuruni  tangga pasir angin meniup cerita yang tak pernah tertulis untukmu R rasa yang selalu malu untuk menunjukkan diri rasa yang bernyanyi sejak ribuan hari tak  terdengar, kita yang tercetak pada garis-garis khayal pada dimensi yang tak bersentuhan   *bukan edisi valentine Best Regards d ii a n  

BAPAK

Hai Bapak, Sudah lama  ya Pak,  mm sudah 6 tahun lebih kita tidak bertemu lagi. terakhir kali, Bapak tahunya saya tamat SMP ya, saya sudah tamat SMA, dan sudah wisuda Pak. Saya tahu Bapak selalu ingin saya jadi 'juara' dalam pendidikan, saya masih ingat waktu Bapak acuh tak acuh ketika saya berteriak kegirangan, karena saya mendapat ranking 1, tapi melihat respon Bapak yang biasa-biasa saja, saya sedih Pak. Apa ranking 1 belum bisa membuat Bapak bangga dengan saya? Jarang sekali saya mendengar Bapak memuji saya. Bapak lebih sering memuji Ita karena dia berhasil mendapat juara kelas,  meskipun bukan juara 1.  * Jarak saya dan adik harusnya beda 2 tahun, tapi karena adik dirasa mampu mengikuti pelajaran, jadilah dia berada 1 tingkat dibawah saya. Jadi ketika saya kelas 2 SD, adik saya sudah kelas 1 SD * Entahlah pak, Saya selalu merasa bahwa Bapak jauh sangat menyayangi adik daripada saya. Walaupun terkadang Bapak memang memanjakan saya, t...

destiny

Menunggumu adalah jalanku bernafas menantimu menggenggam jabat tanganku Menunggumu adalah caraku mencintai kesepianku memelukmu dalam mimpi panjang yang belum berujung Menunggumu adalah kebangganku mencumbu malam menyusuri gelap dengan lentera harap Menantimu memberi kekuatan untuk bermimpi bahwa aku juga akan bahagia 31 Oktober 2012 d ii a n

Bukan kita

Berdiri sendiri di atas langit yang sama dengan menegarkan hati berjalan, merangkak, sesekali menengadah Kau lihat ribuan bintang di atas sana? Aku yakin kau juga melihatnya karena kita berpijak di tanah yang sama. Perlahan menutup mata jemari menari di udara kosong telunjuk menelusuri mata, hidung, bibir, menggenggam jemari, memeluk hangatmu di atas udara tak berbentuk. Adakah mereka menyebut kisah ini takdir? Jalan panjang yang singgah di dalam peluk hangatmu Langkah rapuh yang kau genggam dengan tangan besarmu Dalam dingin malam nanar menatap garis rahangmu kau menoleh kemudian tersenyum Ada kecupan hangat menari di atas tangan beku dingin Biarkan mimpi ini untuk sesaat Izinkan untuk ego ini menggeliat bebas lebih lama lagi Tolong jangan terbangun Ada ribuㅁan kilometer yang memisahkan kehidupan dua wujud yang tidak akan pernah sama Manusia bodoh yang berlutut di hadapan tingginya kebebasan sebatang pohon Terkadang membawa kesejukan terkadang angkuh ta...

Menyesakkan Ubun-ubun

Hari ini Bali tidak seperti hari-hari kemarin yang diguyur hujan hingga matahari kalah saing.  Bali panas, debu, dan tentu saja macet yang mengekor. Ditambah lagi dengan kelakuan si Bos yang bener-bener minta dicakar lahir bathin. Gimana nggak? Kemarin si Bos bilang kalo hari ini kita bakal menghadiri pertemuan yang akan didatangi oleh semua perusahaan sejenis dengan kantor, tempat gw kerja.  Makasi banget,  setelah si Bos datangnya ngaret *gw anti nunggu* ditambah lagi ternyata dy GAK TAU TEMPAT MEETING-nya!! God, ni Bos emang rada-rada bikin panas hati dan kepala, emang. Duh Bos kalo belum prepare anything, please jangan ajak kita-kita melabil gini donk ya,, panas pakk panass,, FYI ajja nih ya, Bos gw orang yang punya cita-cita yang tinggi saking tingginya kita sebagai anak buahnya cuma bisa dengerin dengan senyum yang gak tau mesti dikategorikan sebagai senyum apa. Apalagi senyum pepsodent, jauh dari nominasi begituan. Kadang si Bos asik nyeritain impian dan mimpi...