Hai Bapak,
Sudah lama ya Pak,
mm sudah 6 tahun lebih kita tidak bertemu lagi.
Entahlah pak, Saya selalu merasa bahwa Bapak jauh sangat menyayangi adik daripada saya.
Walaupun terkadang Bapak memang memanjakan saya, tapi Bapak lebih sering menuntut saya menjadi orang yang selalu di atas rata-rata.
Maaf Bapak, saya tidak bisa menjadi bintang kelas seperti ketika Bapak selalu mendorong saya untuk belajar.
Duduk di perkuliahan pun, saya bukan anak superior yang berotak sangat cemerlang.
Saya mahasiswa yang biasa aja saja, seperti yang Bapak lihat dari sana.
Tapi bukan berarti saya menjadi pemalas dan bodoh.
Seperti didikan keras yang Bapak tanamkan pada saya dan Ita, saya tetap bisa membanggakan Mama dengan IP yang selalu di atas 3.
Berkat didikan Bapak dan dukungan Mama, saya berhasil lulus dengan predikat Cumlaude.
Saya sudah sarjana Bapak,
dan sekarang saya juga sudah mulai 'bekerja'.
Adakah bapak bangga kepada saya?
Adakah bapak akan mengatakan kepada mereka, bahwa saya adalah anak kebanggaan bapak?
Pak,
pelajaran yang Bapak ajarkan kepada saya tanpa kehadiran Bapak,
sangat berat
ada banyak makna yang terasa di perjalanan tanpaMu.
Bapak, tanpaMu
kami akan tetap menjadi anak-anakmu
kami tetap akan merindukan tawa dan marahmu
kami pasti selalu menjaga Mama
Saya yang akan membantuMu membuat mereka tersenyum, Pak.
Saya yang akan menjaga mereka dari tangis.
dian sayang sama Bapak :)
peluk dan cium dari Putrimu
d ii a n
Sudah lama ya Pak,
mm sudah 6 tahun lebih kita tidak bertemu lagi.
terakhir kali, Bapak tahunya saya tamat SMP ya,
saya sudah tamat SMA, dan sudah wisuda Pak.
Saya tahu Bapak selalu ingin saya jadi 'juara' dalam pendidikan,
saya masih ingat waktu Bapak acuh tak acuh ketika saya berteriak kegirangan,
karena saya mendapat ranking 1,
tapi melihat respon Bapak yang biasa-biasa saja, saya sedih Pak.
Apa ranking 1 belum bisa membuat Bapak bangga dengan saya?
Jarang sekali saya mendengar Bapak memuji saya.
Bapak lebih sering memuji Ita karena dia berhasil mendapat juara kelas,
meskipun bukan juara 1.
*Jarak saya dan adik harusnya beda 2 tahun, tapi karena adik dirasa mampu mengikuti pelajaran, jadilah dia berada 1 tingkat dibawah saya. Jadi ketika saya kelas 2 SD, adik saya sudah kelas 1 SD*
Entahlah pak, Saya selalu merasa bahwa Bapak jauh sangat menyayangi adik daripada saya.
Walaupun terkadang Bapak memang memanjakan saya, tapi Bapak lebih sering menuntut saya menjadi orang yang selalu di atas rata-rata.
Maaf Bapak, saya tidak bisa menjadi bintang kelas seperti ketika Bapak selalu mendorong saya untuk belajar.
Duduk di perkuliahan pun, saya bukan anak superior yang berotak sangat cemerlang.
Saya mahasiswa yang biasa aja saja, seperti yang Bapak lihat dari sana.
Tapi bukan berarti saya menjadi pemalas dan bodoh.
Seperti didikan keras yang Bapak tanamkan pada saya dan Ita, saya tetap bisa membanggakan Mama dengan IP yang selalu di atas 3.
Berkat didikan Bapak dan dukungan Mama, saya berhasil lulus dengan predikat Cumlaude.
Saya sudah sarjana Bapak,
dan sekarang saya juga sudah mulai 'bekerja'.
Adakah bapak bangga kepada saya?
Adakah bapak akan mengatakan kepada mereka, bahwa saya adalah anak kebanggaan bapak?
Pak,
pelajaran yang Bapak ajarkan kepada saya tanpa kehadiran Bapak,
sangat berat
ada banyak makna yang terasa di perjalanan tanpaMu.
Bapak, tanpaMu
kami akan tetap menjadi anak-anakmu
kami tetap akan merindukan tawa dan marahmu
kami pasti selalu menjaga Mama
Saya yang akan membantuMu membuat mereka tersenyum, Pak.
Saya yang akan menjaga mereka dari tangis.
dian sayang sama Bapak :)
peluk dan cium dari Putrimu
d ii a n
Komentar
Posting Komentar