Langsung ke konten utama

Bukan kita



Berdiri sendiri di atas langit yang sama
dengan menegarkan hati berjalan, merangkak, sesekali menengadah
Kau lihat ribuan bintang di atas sana?
Aku yakin kau juga melihatnya
karena kita berpijak di tanah yang sama.

Perlahan menutup mata
jemari menari di udara kosong
telunjuk menelusuri mata, hidung,
bibir, menggenggam jemari, memeluk hangatmu
di atas udara tak berbentuk.

Adakah mereka menyebut kisah ini takdir?
Jalan panjang yang singgah di dalam peluk hangatmu
Langkah rapuh yang kau genggam dengan tangan besarmu

Dalam dingin malam
nanar menatap garis rahangmu
kau menoleh kemudian tersenyum
Ada kecupan hangat menari di atas tangan beku dingin
Biarkan mimpi ini untuk sesaat
Izinkan untuk ego ini menggeliat bebas lebih lama lagi
Tolong jangan terbangun

Ada ribuㅁan kilometer yang memisahkan kehidupan
dua wujud yang tidak akan pernah sama
Manusia bodoh yang berlutut di hadapan tingginya kebebasan sebatang pohon
Terkadang membawa kesejukan
terkadang angkuh tak ingin terjamah
sebatang pohon berdiri merentangkan akarnya sedalam mungkin
melebarkan batang-batangnya
sesuka hati, seperti bentuk yang ia inginkan
mengikuti tarian angin yang ia suka
manusia bodoh tetap memeluk pohon itu
menjamahnya dengan ribuan rasa

Seberapapun daunnya gugur, ia tetap memunguti dengan sabar
Berulang kali, setiap kali
kembali mencerna, berpikir dengan kepala bukan debaran jantung yang ia pikir itu sayang,
itu cinta.
Perlahan mundur, perlahan dengan senyum
' ku biarkan kau tumbuh tinggi, setinggi yang kau mau
ku relakan manusia lain yang akan menjagamu, menjadikanmu yang terbaik.
Berjalan di arah yang kau mau
tanpa pernah bisa kau perjuangkan
Menyerah pada diri sendiri tanpa identitas
Melepas genggaman yang pernah kau jabat erat '

Kau lupa, di jalan itu ada yang terjatuh,
menatapamu yang berjalan dengan gagah menutup mata.
Ia bangkit berusaha menatapmu dengan gapaian yang tak tergapai,
kemudia berbalik, mengambil arah yang tidak akan menemukan ujung untuk bertemu.
Kalian saling berbalik, berusaha saling menggapai.
sekali lagi kau terdiam, membeku,
kemudian pergi, menjauh.

Tidakkah lebih baik menonton tanpa harus ikut menjadi pemain
dalam drama singkat kehidupan ini?
Bukankah lebih baik menjadi pendengar alunan musik tanpa harus menjadi
deretan irama di dalamnya?
Kecewakah kau ketika salah memetik gitarmu untuk lagu kesukaan?

Jika nada itu salah, aku akan tetap menari hingga menjadi benar.
Dan ketika hujan turun, akan ada aku dan kau menari bersama tanpa perbedaan.




Written
28 Oktober 2012
d ii a n



Komentar